Belajar, kata yang selalu mengingatkan kita pada pendidikan formal, padahal yang namanya belajar tidak selalu di lingkungan formal. Pada dasarnya, kita semua selalu belajar dalam hal apapun dan bisa jadi tanpa kita sadari.
Belajar merupakan suatu proses bagi seseorang untuk mendapatkan suatu perubahan, baik dalam bentuk pengetahuan, keterampilan, sikap, kebiasaan, dan berbagai perubahan lain pada diri kita masing-masing.
Yang menjadi permasalahan, terkadang belajar secara teori itu memang indah, semuanya sempurna tanpa kesalahan, tanpa kendala. Memang kenyataannya seperti itu? Biasanya tidak.
Teori memang tidak salah, karena pada teori selalu disajikan kasus terbaik, kasus terbaik tentu saja akan minim dari masalah, bahkan tanpa kendala, benar begitu bukan?
Pada kenyataannya, cukup banyak kendala dan faktor x yang tidak kita sadari seperti sebuah keadaan tidak enak yang terjadi diluar kendali diri kita sendiri. Pada kenyataannya, mempelajari sebuah teori tanpa adanya pengalaman akan terasa kosong, dan pada kenyataan yang ada kita ternyata tidak siap. Hanya berbekal teori itu memang terlihat sangat menguasai, tanpa adanya praktek dan pengalaman nyaris tidak ada artinya.
Sebagai contoh, kita bisa belajar teori mengemudi dengan baik dan benar, tetapi kita tidak akan pernah bisa mengemudi tanpa adanya praktek.
Tidak pernah ada seorang mekanik handal yang hanya bermodalkan teori bagaimana caranya membongkar mesin dengan baik dan benar, dibutuhkan pengalaman langsung membongkar mesin, dan tidak jarang pasti ada saja kendala di luar dugaan.
Dokter terbaik tidak hanya mendapatkan ilmu dari perkuliahan kedokterannya, dibutuhkan banyak pasien yang menjadi pengalaman dalam pengobatannya, jika hanya sekedar ilmu perkuliahan, tentu saja mahasiswa kedokteran terbaik lah yang sangat menguasainya. Pertanyaannya, apakah mahasiswa kedokteran terbaik itu bisa juga menjadi dokter terbaik? Jawabannya bisa iya, bisa tidak.
Kita tidak hanya membutuhkan sekedar buku bacaan teori, mungkin membutuhkan guru untuk bisa memahami lebih lanjut. Guru bisa menjelaskan teori sangat baik, tetapi seorang mentor bisa memberikan cerita pengalamannya yang tidak dijelaskan dalam teori.
Cara paling umum mendapatkan pengalaman adalah dengan mencobanya sendiri. Sesuatu yang terlihat praktis secara teori, pada kenyataannya pahit ketika mendapatkan masalah yang tidak pernah dijelaskan dalam teori.
Kita bisa mendapatkan pengalaman itu sendiri saat mencoba, tetapi itu tidak sebentar, butuh waktu lama untuk menjadi seorang praktisi ahli.
Mentor terbaik tentu saja akan membagikan banyak pengalaman-pengalaman pahit dalam menghadapi suatu masalah yang menjadi bidangnya. Mentor juga menjadi sarana bagi kita untuk bisa belajar pengalaman dari orang lain. Teori dari buku dan penjelasan guru dapat menjadi sarana mempelajari suatu keterampilan secara sketsa, pada tahap penyempurnaan, pengalaman dari mentor sangat membantu.
Apakah selalu perlu mentor?
Tentu tidak, belajar dari pengalaman orang lain tidak harus melalui mentor secara formal, tetapi bisa juga dari orang-orang sekitar kita, tidak peduli apapun statusnya.
Kita dapat mempelajari suka-duka nikah muda dari orang yang sudah mengalaminya, mungkin bisa saja dari teman dekat kita sendiri. Secara teori tentu saja sangat indah nikah muda itu, tetapi cerita dari orang yang sudah pengalaman yang bisa kita jadikan pelajaran bagi yang belum menikah. Secara teori hanya yang bagus-bagus saja yang diceritakan, tetapi bagi yang sudah mengalami, cerita baik buruk pasti ada.
Mempelajari pengelolaan keuangan dengan baik tidak harus berguru pada ahli finansial terbaik, kita bisa belajar mengelola keuangan yang baik dan benar dari seorang ayah yang memiliki penghasilan rendah, tetapi bisa menghidupi keluarganya dengan baik.
Kita juga bisa belajar bersyukur melalui pengalaman teman kita yang mempunyai kekurangan yang jauh dari kita.
Kesimpulan
Terkadang ilmu berharga tidak hanya dapat di bangku sekolah, tetapi bisa kita dapatkan juga di sekitar kita.
Cerita pengalaman dari orang lain, mungkin saja akan berguna bagi kita di masa yang akan mendatang.
Tetapi, ada aturan dalam belajar dari pengalaman orang lain, yaitu ego. Ego akan mempersulit diri kita untuk mempelajari pengalaman orang lain. Ego kita akan mengatakan dia lebih rendah dari kira, dia gak tau apa-apa. Pada akhirnya, tidak semua orang bisa belajar dari pengalaman orang lain.
Belajar dari pengalaman orang lain tidak hanya perlu menjadi pendengar yang baik, tapi perlu juga pengelolaan ego yang benar.
Komentar
Posting Komentar