Bagi kita semua yang beragama, terutama agama Islam, kita sudah tidak asing lagi jika sering mendengar kata-kata "Dekat dengan Allah, semua urusan pasti lancar", pertanyaan saya, YAKIN?
Apapun agama kita semua, kita sangat perlu mendekatkan diri pada Tuhan yang maha kuasa agar semua urusan kita itu lancar. Lah kok? Sebentar, saya juga bingung kalo sudah urusan ini.
Para pemuka agama memiliki cara yang berbeda untuk mengarahkan umatnya agar mendekatkan diri pada Tuhan yang maha kuasa, ada yang bilang kalo dekat dengan Tuhan yang maha kuasa semua urusan menjadi lancar, ada juga yang bilang akan memberikan ketenangan batin, dan berbagai macam alasan lain.
Metode penyampaian pemuka agama agar umatnya dekat dengan Tuhan-Nya mempunyai cara yang berbeda-beda, dan juga tergantung ajaran agama itu sendiri, karena setiap ajaran agama mempunyai goal atau tujuan yang berbeda.
Dalam agama Islam sendiri, ada yang namanya hari akhir, di hari akhir ini ada sesi perhitungan amal, yang amalan baiknya lebih banyak dari dosanya, maka akan dimasukkan ke surga. Jika dosa lebih banyak dari amalan baiknya, akan dimasukkan ke neraka. Tentu saja umat Islam amalan baiknya harus lebih banyak agar dapat masuk surga. Tetapi hal ini terkadang kurang menarik sehingga ustadz-ustadz mencoba penyampaian lain agar lebih menarik, jadilah iming-iming dunia akan lancar jika kita dekat dengan Allah. Tidak salah memang, tetapi saya merasa kurang tepat saja.
Dalam ajaran Islam, seseorang saat mendekatkan diri pada Allah mungkin bisa saja urusannya akan semakin sulit, kenapa? yang saya ketahui ada 2 sebab, yaitu bisa ujian dari Allah untuk menguji keseriusan hambanya, ataupun sebagai adzab atau balasan perbuatan buruk kita sebelumnya sebagai sarana menghapus dosa-dosa kita di masa lalu.
Bagi umat Islam sudah tidak asing tentunya kata-kata "Dekat dengan Allah, semua urusan pasti lancar", Tentu saja secara logika memang tidak salah. Kata-kata dengan pola yang sama bisa kita jumpai di kehidupan nyata, contohnya "Kalo dekat dengan pejabat, pasti urusan bisnis kita lancar nih", tentu saja secara logika iya, tetapi itu semua tergantung dari sikap pejabatnya juga. Hal sama juga terjadi di kata-kata sebelumnya. Ketika kita mendekatkan diri pada Allah, memang urusan menjadi lancar, tapi urusan apa dulu, tidak harus urusan dunia, kalo urusan untuk menggapai surga-Nya sudah pasti, tapi kalo dunia belum tentu.
Bagi umat Islam sendiri ada istilah Istidraj, kondisi dimana urusan kita dimudahkan karena kita sering berbuat dosa dan jarang melaksanakan ibadah wajib. Terus? Ya di akumulasi dosanya di hari akhir, enak? Iya enak kalo di dunia, di akhirat beda ceritanya.
Yang perlu kita renungkan adalah, apakah ketika urusan duniawi kita lancar masih terus mau mendekatkan diri kepada Allah? Atau bahkan menjauh karena yang diminta sudah dikabulkan? Tidak jarang orang-orang akan kembali menjauh dari Allah karena yang diminta sudah diberikan.
Bagi umat Islam, berurusan dengan Allah itu abadi, karena dalam agama Islam ada kehidupan setelah mati, kalo mau selamat dan lancar tentu saja harus terus dekat dengan Allah, kalo menjauh, akan lebih sulit, bahkan bisa terjebak ke siksa neraka.
Bagi agama lain, bisa saja urusannya berbeda. Tiap ajaran agama memiliki ajaran dan caranya masing-masing, dan yang terpenting kita diajarkan untuk berbuat baik ke sesama manusia.
Jika motivasi kita selama ini untuk mendekatkan diri pada Tuhan yang maha kuasa hanya untuk melancarkan urusan dunia, kalo urusannya tetap saja tidak lancar bagaimana? Mau menyalahkan Tuhan?
Tentu saja semua kembali ke pada niat kita semua, itulah pentingnya kita selalu perbaiki niat kita untuk mendekatkan diri pada Tuhan yang maha kuasa. Jika selama ini niat kita tidak tepat, mari kita perbaiki agar kita tidak berprasangka buruk terhadap Tuhan yang maha kuasa yang sudah menciptakan kita semua.
Terakhir yang terpenting niat untuk mendekatkan diri pada Tuhan semata-mata untuk mendapatkan ridha-Nya agar hidup kita selamat dunia akhirat.
Komentar
Posting Komentar