Ekspektasi, kata-kata yang sudah biasa kita dengar sehari-hari. Ada apa sih dengan ekspektasi?
Ekspektasi bisa juga diartikan sebagai sebuah harapan besar dan khayalan besar yang kita harapkan di suatu saat nanti akan menjadi kenyataan.
Tapi apakah akan terjadi?
Jawaban sebagian besar orang ada yang jawab akan terjadi, katanya harapan adalah doa, emang iya juga sih.
Jika tidak terjadi bagaimana?
Sebagian besar orang akan jawab, nanti akan terjadi pada waktunya. Eh emang benar ya?
Kalo gak terjadi gimana? Siap gak? Panik gak? Mental aman?
Sedikit cerita tentang pribadi saya sendiri yang pernah mengalami kalo ekpektasi itu harus terjadi
Saya pernah menjadi orang yang senang berekspektasi agak tinggi, kalo dibilang ketinggian sih enggak ya, saya juga orang yang bisa dibilang sering terjebak di kegagalan dan kesalahan saya sendiri yang terkadang agak mengesalkan. Saya sadar kala itu berekspektasi terlalu tinggi membuat saya terkadang stress dengan keadaan yang tidak sesuai ekspektasi saya kala itu.
Bagaimana pun namanya hidup yaudah, kita gak bisa atur seenak kita juga sih, lucunya saya sadar kalo ekpektasi tinggi itu bisa membuat stress yang luar biasa ketika tidak terwujud, apalagi sampai jauh banget dari bayangan yang ada.
Saya dulu orang sering banget termakan motivasi-motivasi yang seolah-olah bisa terjadi, seolah-olah manusia tidak memiliki batas, dan lain-lain sebagainya. Ternyata hal itulah yang membuat saya tidak kapok untuk berekspektasi ketinggian.
Suatu saat saya benar-benar sadar jika manusia di manapun berada memiliki limit atau batasan yang kita sendiri terkadang gak tau udah sampai batas atau belum.
Ternyata ekspektasi yang terlalu tinggi ini pula yang menjadi biang kerok ketidakbahagiaan sebagian besar orang di muka bumi ini.
Sejak saya benar-benar menyadari itu, akhirnya saya sedikit mencoba untuk mempelajari psikologis manusia walau tidak terlalu mendalam, sampai akhirnya saya paham, motivasi tanpa data itu hanya permainan kata yang sangat indah dari sang motivator yang hanya memanfaatkan privilege dia sebagai seorang high-profile yang terkesan di segani banyak orang
Jadi?
Kembali ke diri sendiri yang asli adalah jalan terbaik. Jika manusia membuat sesuatu karya apapun itu, pasti memiliki tujuan tertentu. Apakah Tuhan tidak mempunyai tujuan tertentu menciptakan kita semua?
Saya berani jawab ADA!
Kenapa? Coba pandang teman-temanmu, dan orang-orang asing yang kalian temui, apakah semua sama? Kan tidak. Manusia secara fisik pun rangka boleh sama, tetapi perwujudan fisik berbeda. Apakah secara organ dalam tubuh berbeda juga? Sepintas seperti sama, tetapi justru berbeda. Mungkin kalian bertanya-tanya, kok ada orang yang pintar hitung-hitungan tetapi bodoh di bidang lain, ataupun sebaliknya, kapasitas fisik itu nyata sobat.
Terkadang kita merasa kok orang ada yang mempelajari suatu keterapilan dengan mudahnya, tetapi yang lainnya tidak? Padahal kan katanya kita sama-sama makan nasi, kok bisa?
Kita tengok sedikit kendaraan buatan manusia, ambil contoh mobil deh biar gampang.
Kenapa bisa ada mobil yang ukuran besar ataupun kecil? Kenapa ada mobil yang mempunya roda 4 dan ada yang lebih dari 4 roda? Jalannya kan sama aja, minumnya juga sama-sama minyak bumi juga, kalo gak bensin yaa solar, eh sekarang ada yang pakai listrik ya? Oke deh hehe.
Tentu tujuan pembuatannya juga beda kan?
Pertanyaan saya, seiseng itukah Tuhan kita menciptakan manusia tanpa tujuan? Kesannya kok kayak ngeledek ya?
Bagaimana?
Sampai sini sudah berpikirkah kenapa ekspektasi kita selalu gagal diwujudkan?
Jangan-jangan selama ini ekspektasi yang kita bayangkan itu tidak sesuai dengan tujuan Tuhan menciptakan kita semua.
Lah saya kan maunya begitu, ucap sebagian besar orang.
Terkadang kita harus bisa sadar diri untuk apa kita diciptakan.
Tidak cukup disitu, kita juga harus bisa mengendalikan keinginan kita juga.
Disini kita menyadari perlunya mencari tujuan hidup, perlunya berdoa pada Tuhan yang maha kuasa untuk diberikan petunjuk, karena yang mengetahui tujuan kita diciptakan hanya Tuhan, kita sebagai manusia biasa hanya menjalani saja jalan yang sudah diatur Tuhan yang maha kuasa.
Tidak mudah kan?
Emang siapa yang bilang mudah? Mengendalikan ekspektasi juga butuh latihan yang tidak sebentar.
Perlu latihan yang cukup lama dan tingkat kesabaran yang tinggi untuk belajar mengendalikan ekspektasi. Mau sampai kapan kita terus-terusan terjebak dengan ekspektasi kita sendiri?
Belajar perlahan-lahan dan mengalami kekecewaan yang berlanjut menjadi cara upgrade diri kita untuk menjadi lebih baik lagi.
Oke, sekian dulu dan terimakasih untuk yang sudah membaca sampai disini.
Komentar
Posting Komentar