Religius sih, tapi? Gimana ya jelasinnya



Religius, suatu kata yang biasanya diartikan cukup positif bagi kebanyakan masyarakat Indonesia, dan terkesan seperti orang yang sudah pasti masuk surga, bener gak?

Ya memang secara logika orang religius memiliki peluang lebih besar untuk masuk surga, terus yang kurang religius itu calon penghuni neraka? Tidak juga.

Sebenarnya orang seperti apa sih yang bisa dibilang religius? Secara umum yang saya amati ketika seseorang itu benar-benar terlihat serius dalam menjalankan perintah agama, biasanya orang lain akan menyebutnya religius. Orang yang dianggap religius ini biasanya terlihat lebih mementingkan urusan agama ketimbang urusan duniawi, dan orang lain di sekitarnya tidak terlalu mementingkan urusan agama dibandingkan dengan orang yang dianggap religius itu.

Seorang pemuka agama dari agama apapun memang wajar jika disebut religius, karena memang itu bidang dan tugas mereka. Cap religius dari masyarakat memang tidak selalu seorang pemuka agama, bisa juga orang biasa yang memang sangat mementingkan urusan agama.

Kebalikan dari religius adalah sekuler, sekuler memisahkan urusan agama dari kehidupan, menjadikan urusan agama menjadi hal yang sangat privasi dan hanya cukup individu saja.

Sisi positif orang religius, sepertinya tidak perlu dibahas, kita semua juga sudah mengetahui, selain itu juga kesan religius bagi kebanyakan masyarakat Indonesia sudah menjadi hal yang sangat positif dan memiliki nilai tambah sendiri secara sosial.

TAPI?

Saya tidak salah ketik, karena bagi saya ada tapi nya. Oke kita lanjut ke pembahasan.

Saya sempat gabung ke LDK (Lembaga Dakwah Kampus) di kampus saya sendiri, tidak hanya itu, saya juga kenal dengan beberapa teman yang saya anggap religus yang tidak termasuk aktivis dakwah kampus, ada juga teman lama masa sekolah yang dikenal religius.

Selama beberapa waktu saya mencari teman-teman yang saya anggap religius itu, saya sebenarnya cukup banyak melihat teman-teman yang banyak sisi positifnya dibandingkan yang tidak dianggap religius.

Urusan ibadah? Idealis banget tentunya, ibadah sunnah pun rajin, gak jarang jadi pembahasan di tongkrongan. Budi pekerti secara umum terlihat lebih baik dengan minusnya kata-kata kasar dan jorok yang biasa keluar dari mulut kebanyakan orang.

Dibalik indahnya memiliki teman dan kenalan yang terlihat religius itu, lama-kelamaan saya menemukan suatu sisi gelapnya, mungkin bisa dikatakan mereka ini oknum. Oknum sih kayaknya, tapi kok agak banyak ya? Mungkin kebetulah saja kali yang berteman dengan saya kebanyakan yang kurang beres, mungkin loh ya.


Merasa paling benar

Ya, saya cukup banyak kenal dengan orang yang terkesan religius itu merasa paling benar. Merasa paling benar karena sudah banyak belajar ilmu agama katanya, jadi lebih mengetahui mana yang salah dan benar.

Dengan mempelajari ilmu agama juga jika belum tuntas ya artinya belum menguasai dengan benar. Jika mengacu pada pendapat pribadi belum bisa dipastikan kebenarannya, karena kebenaran menurut manusia itu relatif, bahkan beberapa pemuka agama pun bisa berbeda pendapat cukup ekstrim tetapi bisa saling menerima.


Mudah menghakimi

Dikit-dikit bilang HARAM, BID'AH, SYUBHAT, dan lain-lainnya. Ada? Saya pernah kenal dengan beberapa orang yang begini, ya bagi saya sendiri gak asik sih, kok dengan gampangnya mereka seperti itu. Sekarang sudah pada menjauh dari saya, mungkin saya dicap gak beres sama mereka, ya bodo amat lah hahaha.

Menentukan halal-haram, bid'ah, syubhat, dan lain-lainnya tidak sembarangan, perlu banyak pertimbangan dan diskusi dengan sesama orang yang tidak hanya sekedar religius, tapi benar-benar paham agama.


Abuse of power

Beberapa oknum orang-orang yang dianggap religius melakukan hal ini. Contoh yang cukup banyak terjadi adalah ketika meminta bantuan, tetapi yang diminta bantuan sedang tidak bisa, langsung deh bawa dalil-dalil tentang mempersulit hidup orang lain.

Lah yang lagi susah Anda, kok orang bawa-bawa orang lain, kecuali dia ikut berkontribusi dalam kesusahannya, itu sudah lain cerita.

Cukup banyak beredar juga, dari yang saya dengar, suami-suami yang bawa-bawa dalil-dalil seenaknya jika tidak sependapat dengan istrinya, kok gitu sih? Heran saya tuh


Cukup deh sampe sini

Sebenarnya masih ada lagi, tapi ya sudahlah sampai sini aja, sisanya tidak terlalu banyak terjadi.


Terus?

Menjadi religius memang bagus, tapi tidak sampai menjadi pribadi yang seenaknya juga. Itulah pentingnya ADAB DI ATAS ILMU. Jika urusan ilmu, iblis sangat menguasai, dia hidup sejak sebelum ada manusia hingga hari kiamat. Iblis sangat alim tapi tidak beradab.

Sampai sini saya cukup tersadar, ternyata sangat penting mempelajari ADAB sebelum mempelajari ILMU. Jika sekedar mempelajari ilmu, yang terjadi ya seperti yang sudah saya ulas diatas.


Ilmu memang penting, tapi terkadang kita lupa dengan adab. Pada akhirnya, kita akan terus menjadi pembelajar sampai akhir kehidupan kita nanti.

Tidak ada batasan jelas dimana titik terbaik kita, tetapi kita bisa belajar untuk terus menjadi yang lebih baik setiap harinya.

Komentar