Membenturkan Keimanan Dan Kesehatan Mental

Sumber : https://www.pexels.com/

Masalah kesehatan mental yang banyak dibicarakan oleh GEN Z tidak jarang mendapatkan nyinyiran dari generasi sebelumnya. Generasi sebelumnya menganggap GEN Z ini sebagai generasi yang lembek, lemah mental, dan gak kuat tekanan.

Masalah mental juga seringkali dibenturkan ke arah agama oleh orang-orang yang katanya RELIGIUS. Menyedihkan tapi sulit untuk dijelaskan. Pada kenyataannya, permasalahan ini termasuk penyakit, bukan karena KURANG IMAN.

Penyakit tetaplah penyakit. Manusia yang spesial dan sangat dekat dengan Tuhan tentu saja mudah untuk mendapatkan pertolongan langsung dari Tuhan tanpa perlu perantara manusia. Mungkin hanya beribadah dan berdo'a saja penyakit sudah sembuh.

Bagi manusia biasa seperti kebanyakan orang-orang, termasuk juga penulis, memang berdo'a akan mempermudah penyembuhan juga, tetapi caranya dengan dipertemukan kepada orang yang ahli di bidangnya.

Cukup perih apabila ada orang yang ketika melihat orang lain terkenal penyakit mental, langsung dianggap "KURANG IMAN". Tidak se-sederhana itu.

Lalu ada juga yang mengatakan jika orang yang terkena penyakit mental adalah orang yang KURANG BERSYUKUR. Pada kenyataannya, masih banyak orang yang menyepelekan penyakit mental, hanya karena yang sakit JIWAnya, bukan FISIKnya. Akan berbeda ketika FISIKnya yang sakit, penyakit pada JIWA memang tersembunyi, hampir tak nampak secara FISIK.

Keimanan dan bersyukur memang menjadi pondasi untuk kesehatan mental kita, tetapi jika kita sudah terkena penyakit mental, memang harus mendatangi ahlinya, yaitu PSIKOLOG dan PSIKIATER.

Walaupun kita semua beriman kepada Tuhan yang berkuasa, apapun agama kamu, tetap saja sebagian besar dari kita hanya manusia biasa yang ketika meminta pertolongan kepada Tuhan, pertolongannya melalui perantara orang lain. Ini merupakan hal yang sangat normal.

Memang sudah menjadi kodratnya manusia sebagai makhluk sosial, kita tidak bisa mengelak jika kita tetap memerlukan bantuan orang lain.

Jika kita masih merasa tidak perlu bantuan orang lain, dan menganggap hanya Tuhan lah yang akan menolong kita secara langsung. Apakah Anda dapat menguburkan JENAZAHMU sendiri?


Komentar